Langsung ke konten utama

Postingan

Kota Ini

Kota Ini Dulu saya mengenal kota ini sebagai kota hujan, yang tak lepas dari image sebagai penyumbang kendaraan roda empat. Istilahnya kota sejuta angkot. Tapi ternyata, kota ini punya banyak sebutan. Saya jadi ingat ketika duduk santai sambil menyeruput kopi di kawasan Dr. Semeru. Seorang warga mengeluhkan panasnya kota Bogor yang makin hari makin menjadi-jadi. Bahkan, dia pun mengungkapkan kekecewaannya terhadap pembangunan yang terjadi. Konon, pohon-pohon kenari yang selalu menyambut pendatang dari luar Kota Bogor kini harus berganti jadi bangunan tinggi. Saya juga tidak hafal persis, kondisi Kota Bogor tempo dulu. Karena, saya sendiri bukanlah warga Bogor, melainkan warga Kabupaten Bogor.  Saya juga tidak bisa membandingkan keadaan Bogor zaman dulu dengan saat ini. Tapi yang pasti, setelah hampir 1.5 tahun saya bekerja di Kota Bogor, makin terasa apa yang banyak dikeluhkan warga kebanyakan. Mulai dari kemacetan, suhu cuaca yang makin panas, debu kendaraan bermotor ...

Semarang, Kota Sejuta Rasa :)

Pengalaman Ku Bertemu Anggota Dewan

28 November 2013 Sebatas Coretan Duduk manis menunggu si pemangku jabatan. Dengan bangga sosok itu keluar dari ruangannya, hanya melihat ke arah saya tanpa menggoreskan senyum apalagi menyapa. Lalu menemui rekannya yang jelas-jelas datangnya belakangan, setelah aku menunggunya di ruang tamu dengan jajaran kursi yang tidak lepas dari kesan angkuh Entahlah, merek a si pemangku jabatan seringkali terlampau tinggi hati. Merasa dirinya hebat, berkuasa, dan punya kelasnya. Padahal saat kampanye dulu, keinginan menjadi seorang 'pelayan' terus digembar-gemborkan agar dirinya bisa mewakili suara masyarakat. Jabatan itu membutakan, menggelapkan dan akan menjatuhkan bila si pemangku tersebut tidak bisa menjalankan amanah. Bukan saja tugas dan fungsinya secara normatif tapi cara, sikap dan perilakunya terhadap masyarakat. Berbuat baik ketika ada maunya. Menampilkan sosok tebaik ketika berhadapan dengan orang yang punya jabatan sepadan. Dan seringkali memandang s...

Flash-Back :)

Pikiran ku menerawang, kembali ke masa silam. Teringat saat aku masih duduk di bangku kuliah. Berkegiatan di beberapa organisasi yang tidak lepas dari dunia tulis menulis Semua aku jalani sedari awal mengenyam status sebagai mahasiswa. Aku tidak pernah membayangkan bisa masuk di keluarga besar pers mahasiswa Fisip Undip.  Saat itu, aku melihat sungguh keren para senior ku yang ada di sana. Pandai sekali merangkai kata-kata hingga lembaran kertas dihabisi. Sementara aku, diminta menulis cerpen sebanyak tiga lembar lembar saja butuh waktu berminggu-minggu untuk menyelesaikannya. Lucu, sangat lucu. Bahkan aku sempat mneyerah untuk menulisnya. Beruntung, aku memiliki partner yang menyenangkan dan pengertian. Ana.   Dia yang membantu ku untuk menyelesaikan penggalan cerpen yang masih kurang.  Foto narsis di wisma brayan bareng Ana (kerudung cokelat) Di mata senior ku yang lain, cerpen itu adalah tulisan paling mudah diantara semua tulisan. Tapi buat k...

Lelakiii 'Laki'

Lelaki yang baik adalah dia yang bisa menghargai perempuan, sekalipun si perempuan tersebut belum bisa menghargai dirinya sendiri. Karena sejatinya, lelaki adalah imam yang seharusnya bisa membimbing, menjadi panutan. Bukan dia yang mengucapkan sayang lalu mengekploitasi si perempuan untuk kesenangannya sesaat. Atau dia yang membiarkan si perempua n menjual harga dirinya demi apapun yang melatarbelakanginya. Juga bukan dia yang memberikan perhatian hanya pada satu gadis yang jadi targetnya. Tapi, bagaimana dia menghormati setiap perempuan bahkan seluruh perempuan dengan menjaga dan melindunginya. Tidak berarti perempuan lemah sehingga harus dijaga. Tapi itu sebagai wujud, bukti kalau dia menganggap perempuan sebagai ciptaan Allah yang berharga. Bukan melindungi dengan dekapan erat ataupun pelukan mesra. Tapi justru menutupi apa yang menjadi mahkotanya. Mengingatkan tanpa mendikte apalagi menggurui.

Coretan usai Pilpres 2014

Coretan usai Pilpres 2014    Hari ini pemilihan presiden (pilpres) telah usai. Sayangnya, akhir pesta demokrasi ini harus ditutup dengan aksi saling caci maki antar kubu pasangan capres-cawapres. Lontaran kata-kata pedas,manis, asin terus berteriak melalui broadcast bb yang tak henti-hentinya. Orang yang pro pasangan A, akan serta merta menuduh, me nuding, menjelek-jelekkan pasangan B. Begitupun pula sebaliknya. Dan saya melihat virus narsisme kian mewabah diantara pendukung pasangan calon. Masing-masing menjagokan diri, menunjukkan kelebihan dirinya untuk meyakinkan kalau dirinya memiliki kapasitas sebagai pemimpin bangsa. Ada yang menunjukannya melalui tayangan berbayar alias iklan. Bersikap ramah, padahal hati sebenarnya siapa yang tahu. Saya juga miris, ketika salah satu stasiun televisi yang dikenal dengan pemberitaannya justru dipojokkan lantaran dianggap menyebarkan informasi yang tidak akurat. Saya tidak membela kubu A atau B. Saya hanya meras...

Pemiluuuu

Tepat 10 hari jelang pemilu, setiap caleg makin sibuk mempersiapkan dirinya menuju parlemen. Memperebutkan kursi kosong,dengan berbagai upaya, trik, dan strategi. Bahkan tidak sedikit yang mengobralkan tokoh-tokoh nasional andalan dari setiap kendaraan yang ditumpangi. Berbagai isu dilempar ke publik, seolah dirinya benar-benar peduli pada rakyat kecil. Pendidikan gratis, kesehatan murah, sampai dengan program usaha yang dijanjikan bisa memberi pinjaman modal untuk menjadi seorang enterpreneur. Tapi sayangnya, entah lupa atau memang tidak peduli. Empat hari setelah pencoblosan 9 April mendatang, siswa-siswi SMA/SMK yang kebanyakan merupakan pemilih pemula tidak digubris oleh para calon wakil rakyat. Jadi pertanyaan ketika mereka mengunggulkan program pendidikan, tapi sasarannya sendiri tidak dirangkul. Mereka justru sibuk dengan pembagian sembako, kerudung ataupun beberapa lainnya. Sementara kesiapan para siswa kelas XII sendiri tidak diperhatikan. Bahkan disi...