Langsung ke konten utama

Cinta Semu

Cinta semu.., itulah judul yang saya angkat dalam tulisan kali ini.Cinta semu yang menurut say dapat bersemi pada setiap individu, termasuk pada kita.  Saya, kamu, dia, dan mereka. Jika beberapa orang mengatakan bahwa dirinya telah jatuh cinta pada pandangan pertama, bagi saya bisa jadi itu adalah cinta semu. Cinta yang belum pasti kebenarannya. Jadi berhati-hatilah, agar kita tidak terjebak dalam cinta yang semu. Cinta yang hanya berfokus pada kehidupan duniawi tanpa memikirkan kehidupan di akhirat. Semoga kita selalu ditunjukkan pada cinta suci yang diridhoi oleh Sang Pemilik Hati. Amin.

Entahlah, saya masih sering sinis jika ada seseorang dengan mudahnya mengatakan cinta. "aku cinta kamu", " aku sayang kamu, ataupun ungkapan lainnya yang menunjukkan bahwa seseorang benar-benar mencintai pasangannya. Bukan saya merasa iri ataupun sirik, tetapi justru saya miris jika mendengar kata-kata itu terucap dari mulut yang tidak bertanggung jawab. Saya pun merasa sedih ketika kata-kata tersebut hanya menjadi pemanis buatan untuk mempertahankan hubungan dengan pasangan. Apalagi saat ini di beberapa stasiun televisi banyak menyuguhkan tontonan berbau percintaan yang dilakoni oleh anak-anak.Seolah bahwa dunia  semata-mata untuk mencari cinta 'yang sebenarnya masih semu. 

Saya tahu, terkadang memang sulit membedakan antara cinta semu dan suci. Itulah mengapa kita diperintahkan untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Karena dengannya kita bisa terhindar dari hal-hal yang tidak diridhoi-NYA. Di dalam islam pun masing-masing dari kita diperintahkan untuk menundukkan pandangannya dan melarang kita untuk berdua-duaan dengan seseorang yang bukan muhrimnya. Apa yang diperintahkan-NYA semata-mata demi kebaikan kita. kebaikan saya, kamu, dia dan mereka. Allah tidak ingin jika kita terjebak dalam cinta semu, yang tidak membawa manfaat.  Tapi,  apa yang telah kita lakukan? Bukankah kita masih sering mendzalimi diri sendiri (silahkan tanyakan pada diri anda). 

Saya yakin, orang-orang yang sedang kasmaran karena baru saja jadian ataupun baru saja mengenal seseorang yang menarik hatinya, akan merasa bahagia. Hatinya pasti bergejolak tidak karuan dan rasanya ingin selalu bertemu. Mendengar suaranya dan melihat wajahnya.Di mana-mana selalu muncul bayangannya, bahkan ada yang tidak bisa tidur hanya karena memikirkan pujaan hatinya. Sampai-sampai ketika menghadap Allah pun, dalam sujud terpikir wajahnya. Astaghfirulllah.

Itulah yang saya sebut sebagai cinta semu. cinta sesaat karena terbawa suasana dan mungkin lebih tepatnya hawa nafsu. Kita merasa bahagia, namun tanpa sadar bahwa hal itu justru menyakiti diri sendiri. Bagaimana tidak. kita rela tidak tidur karena sibuk memikirkan seseorang yang belum tentu dan belum pasti memikirkan diri kita. Bahkan kebiasaan kita mengaji justru harus dilewatkan hanya karena ingin bertemu dengan si pujaan hati. atau mungkin waktu sepertiga malam yang biasanya rutin dilakukan justru dipergunakan untuk mendengar suara pujaan hati dari seberang sana. (iya apa iya?, jawab sendiri ya).

Pengalaman memang telah membuka mata saya. Mengajarkan saya banyak hal, termasuk untuk urusan cinta. Cinta yang awalnya kita agung-agungkan dan ternyata berakhir dengan sebuah penyesalan. Dan sepertinya kita pun harus ekstra hati-hati dalam memilih seseorang untuk dijadikan sebagai sandaran hati dalam membangun mahligai rumah tangga. Karena bagaimana pun juga, menikah adalah bagian dari ibadah yang Allah perintahkan. Dan kita pun harus benar-benar membuka mata, hati dan telinga dengan penuh perhatian untuk melihat, merasakan dan mendengarkan segala sesuatunya yang berkaitan dengan cinta. Jangan biarkan hawa nafsu mengendalikan diri ini, hingga kita tak berdaya dan terjebak dalam cinta semu. 

Saya sadar bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Tapi saya yakin, bahwa agama dapat menyempurnakan diri manusia. Tidak hanya tahu agama, tapi memahami dan meng-imani agama yang dianut., yakni meyakini dalam hati, mengucapkan dalam lisan dan melakukan dengan tindakan apa yang telah diyakini. Bagi saya, mengetahui agama saja tidaklah cukup jika seseorang tidak menjalankan apa yang diperintahkan dalam agama. 

Dan tugas kita saat ini adalah selalu berusaha memperbaiki diri dengan menjalin hubungan baik dengan Allah dan sesama makhluknya.

Semoga Allah menunjukkan cinta suci pada diri kita karena sesungguhnya:
perempuan yang baik hanya untuk lelaki baik-baik dan sebaliknya


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kursi Wabup, ‘Siapa Dapat Apa’

Polemik pengisian wakil bupati (wabup) Bogor terus saja bergulir. Tarik menarik kepentingan antara partai politik (parpol) pengusung Rachmat Yasin- Nurhayanti (RAYA) saat pemilihan kepala daerah (pilkada) 2013 membuat suhu politik di Kabupaten Bogor kian memanas. Masing-masing parpol berusaha mempertahankan jagoannya aga r bisa menjadi pendamping Nurhayanti. Segala cara dilakukan agar tujuannya tercapai, apalagi kalau bukan demi kekuasaan. Politik tidak pernah lepas dari kepentingan. Sebab, politik menyangkut ‘ siapa dapat apa’, seperti yang diungkapkan pakar politik Amerika serikat Harold D Lasswell.

ke Gunung???

                Sebagian orang berpikir, apa sih enaknya naik gunung?itu kan bikin capek!”  naik gunung berarti jauh dari peradaban. Emang gak salah kalo ada yang bilang seperti itu, karena saya pun awalnya demikian. Mendaki gunung tidak senikmat yang saya bayangkan. Susah, capek , whuahh..., pokoknya yang gak enak2 banyak deh. Eitzz... tunggu dulu, meski gak enak  tapi ada buanyaaak pelajaran yang bisa kamu dapatkan ketika kamu melakukan proses yang namanya mendaki. Mendengar kata mendaki, pastinya pikiran kita tertuju pada perjalanan menuju puncak gunung. Semakin terus kita berjalan, perjalanan kita semakin naik dan pastinya semakin berat. Buat  saya pribadi disitulah rasa nikmatnya melakukan pendakian gunung. Apalagi jika berhasil sampai di puncak tertinggi. Wauuw.., rasanya sungguh nano-nano deh. Takjub melihat kebesaran ALLAH, puas karena berhasil melewati segala rintangan. Saya...

Mawar Putih dan Janji Adam

Air mata Disa langsung membasahi pipinya begitu ia sampai di rumah. Malam itu hatinya seperti terasa sesak. Pertanyaan Adam memenuhi isi kepalanya, hingga perlahan ada rasa yang menyayat hati. Pikiran Disa bercampur aduk. Bagaimana pun, sejak ia memutuskan jalan dengan Adam rasa kagum itu telah berubah menjadi rasa lain. Tapi saat itu, Disa tak berani bilang sayang ataupun cinta, sebelum lelaki yang sudah dua tahun menunggunya itu datang melamar dan menghalalkannya. Disa memendam rasa itu. Meskipun ada keinginan untuk mengutarakannya tiap kali mereka berbalas pesan. Hampir tiap malam, Adam selalu menunggu Disa pulang. Hingga suatu  hari Adam menanyakan sesuatu pada Disa. Malam itu,  mereka berdua dalam perjalanan pulang. Disa baru saja menemani Adam bertemu dengan teman-temannya. Suasana yang semula cair mendadak dingin begitu pertanyaan itu keluar. "Kalau ada lelaki lain yang datang melamarmu sebelum aku, apa kamu akan tetap menerimanya" tanya Adam saat perjalanan...